 |
| Gambar 406. HTB atau Hybrid Transmission Box |
Dalam konteks komunikasi serat optik, HTB biasanya merujuk pada Hybrid Transmission Box. Ini adalah perangkat atau sistem yang digunakan untuk menggabungkan atau mengelola berbagai jenis sinyal dalam sistem transmisi serat optik. Berikut adalah beberapa penjelasan terkait:
Fungsi HTB dalam Komunikasi Serat Optik
1. Konversi Sinyal
HTB sering digunakan untuk mengonversi sinyal listrik (dari kabel tembaga) menjadi sinyal optik (untuk ditransmisikan melalui serat optik), atau sebaliknya.
2. Penggabungan dan Distribusi Sinyal
HTB dapat menggabungkan beberapa jenis sinyal (seperti data, suara, atau video) ke dalam satu jalur transmisi serat optik, sehingga memanfaatkan kapasitas serat secara lebih efisien.
3. Interkoneksi Antar Jaringan:
HTB memungkinkan integrasi antara jaringan kabel konvensional (misalnya Ethernet) dengan jaringan berbasis serat optik.
4. Konverter Media:
HTB sering digunakan sebagai konverter media dalam sistem FTTH (Fiber to the Home) atau jaringan optik lainnya.
5. Contoh Penggunaan HTB:
- Jaringan FTTH (Fiber to the Home):
HTB digunakan di sisi pelanggan untuk menghubungkan perangkat rumah (seperti komputer atau router) dengan jaringan serat optik.
- Infrastruktur Jaringan Kampus atau Perkantoran:
HTB membantu mentransmisikan data dalam jarak jauh melalui serat optik, dengan titik penghubung yang mudah antara jaringan optik dan perangkat berbasis kabel tembaga.
Konsep Dasar Media Converter HTB dengan Port RJ-45 dan Port Fiber Optic
1. Apa itu Media Converter HTB?
Media Converter HTB adalah perangkat jaringan yang berfungsi untuk mengubah atau mengonversi sinyal dari kabel tembaga (Ethernet UTP, RJ-45) ke kabel serat optik (Fiber Optic, SFP atau SC/LC connector) dan sebaliknya. Perangkat ini memungkinkan integrasi jaringan berbasis tembaga dan serat optik, sehingga transmisi data dapat dilakukan lebih jauh dengan kecepatan yang tinggi.
Media Converter HTB sering digunakan dalam jaringan Metropolitan Area Network (MAN), kampus, perkantoran, serta jaringan Fiber to the Home (FTTH).
2. Struktur dan Komponen Media Converter HTB
Media Converter HTB biasanya memiliki dua port utama:
§ Port RJ-45 (Ethernet UTP)
→ Untuk koneksi ke perangkat jaringan berbasis tembaga seperti switch, router, atau komputer.
→ Mendukung standar 10/100/1000 Mbps (Fast Ethernet atau Gigabit Ethernet).
§ Port Fiber Optic (SC/LC atau SFP Slot)
→ Untuk koneksi ke jaringan serat optik, mendukung single-mode atau multi-mode fiber.
→ Dapat mentransmisikan data hingga 20 km atau lebih, tergantung jenis fiber opticnya.
Beberapa model juga memiliki fitur seperti Auto MDI/MDIX, yang memungkinkan penggunaan kabel straight atau crossover tanpa konfigurasi tambahan.
3. Cara Kerja Media Converter HTB
3.1 Konversi Sinyal Elektrik ke Optik
§ Data dari perangkat jaringan (misalnya, switch atau komputer) masuk melalui port RJ-45 sebagai sinyal listrik.
§ Media converter mengubah sinyal listrik tersebut menjadi sinyal optik untuk ditransmisikan melalui kabel fiber optic.
3.2 Transmisi Melalui Kabel Serat Optik
§ Sinyal optik yang dikonversi dikirim melalui serat optik ke perangkat tujuan, seperti switch atau media converter lainnya.
§ Serat optik memungkinkan transmisi data jarak jauh dengan latensi rendah dan interferensi minimal.
3.3. Konversi Sinyal Optik ke Elektrik
§ Perangkat penerima (misalnya, media converter lain) akan mengubah kembali sinyal optik menjadi sinyal listrik.
§ Sinyal listrik kemudian dikirim ke perangkat jaringan lainnya melalui kabel UTP.
Dengan cara ini, media converter HTB memungkinkan perangkat berbasis Ethernet UTP berkomunikasi melalui jaringan fiber optic tanpa perlu mengganti infrastruktur jaringan yang ada.
4. Jenis Media Converter HTB
4.1. HTB-3100 Series
§ Model standar dengan port 10/100 Mbps RJ-45 dan port fiber optic SC.
§ Cocok untuk jaringan fiber optik jarak menengah (hingga 20 km).
4.2. HTB-4100 Series (Gigabit)
§ Mendukung kecepatan 10/100/1000 Mbps untuk koneksi Ethernet.
§ Digunakan dalam jaringan backbone dengan bandwidth tinggi.
4.3. HTB dengan SFP Slot
§ Memungkinkan penggunaan modul SFP (Small Form-factor Pluggable) yang bisa diganti sesuai kebutuhan jaringan.
§ Lebih fleksibel dibanding model fixed port fiber SC/LC.
5. Keuntungan Menggunakan Media Converter HTB
5.1 Memperpanjang Jangkauan Jaringan
§ Ethernet UTP biasanya hanya mencapai 100 meter, sedangkan dengan fiber optic bisa mencapai 20 km atau lebih.
5.2 Meningkatkan Keamanan dan Keandalan
§ Serat optik tidak terpengaruh oleh interferensi elektromagnetik (EMI), sehingga lebih stabil dibanding kabel tembaga.
5.3 Mengurangi Biaya Infrastruktur
§ Tidak perlu mengganti seluruh perangkat jaringan ke fiber optic, cukup menggunakan media converter untuk transisi bertahap.
5.4 Kompatibel dengan Berbagai Perangkat
§ Bisa digunakan dengan switch, router, firewall, atau perangkat jaringan lainnya tanpa perlu perubahan besar dalam konfigurasi.
6. Contoh Penggunaan Media Converter HTB
6.1 Jaringan Kampus atau Perkantoran
§ Digunakan untuk menghubungkan dua gedung dengan kabel fiber optic sambil tetap menggunakan jaringan Ethernet UTP di dalam gedung.
6.2 Jaringan FTTH (Fiber to the Home)
§ ISP menggunakan media converter untuk menghubungkan serat optik dari OLT (Optical Line Terminal) ke perangkat pelanggan.
6.3 Jaringan CCTV Jarak Jauh
§ Digunakan untuk menghubungkan kamera CCTV berbasis IP ke pusat kontrol melalui jaringan fiber optic.
Kesimpulan
Media Converter HTB adalah solusi praktis untuk mengintegrasikan jaringan Ethernet berbasis kabel tembaga dengan jaringan serat optik. Dengan teknologi ini, jaringan dapat diperluas tanpa harus mengganti seluruh infrastruktur yang sudah ada, sehingga lebih hemat biaya dan lebih fleksibel dalam pengelolaan jaringan.
Prinsip Dasar Sistem Networking Service
 |
Gambar 391. Sistem Networking Service |
Prinsip dasar sistem networking service melibatkan berbagai konsep dan teknologi yang memungkinkan perangkat komputer dan perangkat lain untuk saling berkomunikasi dan berbagi sumber daya. Berikut adalah beberapa prinsip dasar dalam sistem jaringan layanan (networking service):
1. Layered Architecture:
§ Model OSI (Open Systems Interconnection): Model OSI adalah model referensi untuk bagaimana aplikasi dapat berkomunikasi melalui jaringan. Terdiri dari tujuh lapisan: Physical, Data Link, Network, Transport, Session, Presentation, dan Application.
§ Model TCP/IP: Model ini lebih praktis dan terdiri dari empat lapisan: Link, Internet, Transport, dan Application.
2. Addressing:
§ IP Addressing: Setiap perangkat yang terhubung ke jaringan memiliki alamat IP unik yang digunakan untuk mengidentifikasi dan mengarahkan paket data.
§ MAC Addressing: Alamat fisik yang ditetapkan pada kartu jaringan perangkat, digunakan untuk komunikasi pada lapisan Data Link.
3. Routing and Switching:
§ Routing: Proses pengiriman paket data dari satu jaringan ke jaringan lain. Router adalah perangkat yang digunakan untuk menentukan jalur terbaik bagi paket data.
§ Switching: Proses pengiriman paket data di dalam jaringan lokal. Switch adalah perangkat yang menghubungkan berbagai perangkat dalam satu jaringan.
4. Protocols:
§ Transmission Control Protocol (TCP): Menyediakan koneksi yang andal dan memastikan data dikirim secara urut dan tanpa kesalahan.
§ User Datagram Protocol (UDP): Menyediakan koneksi yang tidak andal, digunakan untuk aplikasi yang membutuhkan kecepatan lebih tinggi dan toleransi terhadap kehilangan data.
§ HyperText Transfer Protocol (HTTP/HTTPS): Digunakan untuk mengakses dan mentransfer halaman web.
§ Simple Mail Transfer Protocol (SMTP): Digunakan untuk mengirim email.
5. Network Security:
§ Firewall: Perangkat atau perangkat lunak yang digunakan untuk mengontrol dan mengamankan lalu lintas jaringan berdasarkan aturan keamanan.
§ Encryption: Proses mengamankan data dengan mengubahnya menjadi format yang tidak bisa dibaca tanpa kunci dekripsi yang benar.
§ Virtual Private Network (VPN): Mengamankan koneksi jaringan dengan membuat jalur komunikasi yang terenkripsi antara dua titik.
6. Network Services:
§ Domain Name System (DNS): Sistem yang menerjemahkan nama domain (misalnya, www.example.com) menjadi alamat IP.
§ Dynamic Host Configuration Protocol (DHCP): Protokol yang secara otomatis memberikan alamat IP kepada perangkat di jaringan.
7. Bandwidth and Throughput:
§ Bandwidth: Kapasitas maksimum jaringan untuk mentransfer data dalam satu waktu.
§ Throughput: Jumlah data yang benar-benar berhasil ditransfer dalam periode waktu tertentu.
8. Quality of Service (QoS):
§ Teknik untuk mengelola dan memastikan kinerja yang dapat diprediksi dari layanan jaringan dengan prioritas tertentu, misalnya, memberikan prioritas lebih tinggi pada lalu lintas suara atau video dibandingkan dengan lalu lintas data lainnya.
Prinsip-prinsip ini bersama-sama membentuk dasar bagaimana jaringan layanan bekerja dan memberikan fondasi untuk desain, implementasi, dan manajemen jaringan yang efektif dan efisien.
Penghitungan Subnetting
 |
| Gambar 348. Subnetting |
Setelah anda membaca artikel Konsep Subnetting, Siapa Takut? dan memahami konsep Subnetting dengan baik. Kali ini saatnya anda mempelajari teknik penghitungan subnetting. Penghitungan subnetting bisa dilakukan dengan dua cara, cara binary yang relatif lambat dan cara khusus yang lebih cepat.
Pada hakekatnya semua pertanyaan tentang subnetting akan berkisar di empat masalah: Jumlah Subnet, Jumlah Host per Subnet, Blok Subnet, dan Alamat Host- Broadcast.
Penulisan IP address umumnya adalah dengan 192.168.1.2. Namun adakalanya ditulis dengan 192.168.1.2/24, apa ini artinya? Artinya bahwa IP address 192.168.1.2 dengan subnet mask 255.255.255.0.
Lho kok bisa seperti itu? Ya, /24 diambil dari penghitungan bahwa 24 bit subnet mask diselubung dengan binari 1. Atau dengan kata lain, subnet masknya adalah: 11111111.11111111.11111111.00000000 (255.255.255.0).
Konsep ini yang disebut dengan CIDR (Classless Inter-Domain Routing) yang diperkenalkan pertama kali tahun 1992 oleh IEFT. Pertanyaan berikutnya adalah Subnet Mask berapa saja yang bisa digunakan untuk melakukan subnetting? Ini terjawab dengan tabel di bawah:
| | | | | | | |
| | Subnet Mask | Nilai CIDR | | Subnet Mask | Nilai CIDR | |
| | 255.128.0.0 | /9 | | 255.255.240.0 | /20 | |
| | 255.192.0.0 | /10 | | 255.255.248.0 | /21 | |
| | 255.224.0.0 | /11 | | 255.255.252.0 | /22 | |
| | 255.240.0.0 | /12 | | 255.255.254.0 | /23 | |
| | 255.248.0.0 | /13 | | 255.255.255.0 | /24 | |
| | 255.252.0.0 | /14 | | 255.255.255.128 | /25 | |
| | 255.254.0.0 | /15 | | 255.255.255.192 | /26 | |
| | 255.255.0.0 | /16 | | 255.255.255.224 | /27 | |
| | 255.255.128.0 | /17 | | 255.255.255.240 | /28 | |
| | 255.255.192.0 | /18 | | 255.255.255.248 | /29 | |
| | 255.255.224.0 | /19 | | 255.255.255.252 | /30 | |
| | | | | | | |
SUBNETTING PADA IP ADDRESS CLASS C
Ok, sekarang mari langsung latihan saja. Subnetting seperti apa yang terjadi dengan sebuah NETWORK ADDRESS 192.168.1.0/26 ?
Analisa:
192.168.1.0 berarti kelas C dengan
Subnet Mask /26 berarti 11111111.11111111.11111111.11000000 (255.255.255.192).
Penghitungan:
Seperti sudah saya sebutkan sebelumnya semua pertanyaan tentang subnetting akan berpusat di 4 hal, jumlah subnet, jumlah host per subnet, blok subnet, alamat host dan broadcast yang valid. Jadi kita selesaikan dengan urutan seperti itu:
1. Jumlah Subnet = 2^x (Dua pangkat x),
dimana x adalah banyaknya binari 1 pada oktet terakhir subnet mask
(2 oktet terakhir untuk kelas B, dan 3 oktet terakhir untuk kelas A).
Jadi Jumlah Subnet adalah 2^2 = 4 subnet
2. Jumlah Host per Subnet = 2^y – 2,
dimana y adalah adalah kebalikan dari x yaitu banyaknya binari 0 pada oktet terakhir subnet.
Jadi jumlah host per subnet adalah 2^6 – 2 = 62 host
3. Blok Subnet = 256 – 192
(nilai oktet terakhir subnet mask) = 64.
Subnet berikutnya adalah 64 + 64 = 128, dan 128+64=192.
Jadi subnet lengkapnya adalah 0, 64, 128, 192.
4. Alamat host dan broadcast yang valid ?
Kita langsung buat tabelnya.
Sebagai catatan, host pertama adalah 1 angka setelah subnet, dan broadcast adalah 1 angka sebelum subnet berikutnya.
| | | | | | | |
| | Subnet | 192.168.1.0 | 192.168.1.64 | 192.168.1.128 | 192.168.1.192 | |
| | Host Pertama | 192.168.1.1 | 192.168.1.65 | 192.168.1.129 | 192.168.1.193 | |
| | Host Terakhir | 192.168.1.62 | 192.168.1.126 | 192.168.1.190 | 192.168.1.254 | |
| | Broadcast | 192.168.1.63 | 192.168.1.127 | 192.168.1.191 | 192.168.1.255 | |
| | | | | | | |
Kita sudah selesaikan subnetting untuk IP address Class C. Dan kita bisa melanjutkan lagi untuk subnet mask yang lain, dengan konsep dan teknik yang sama. Subnet mask yang bisa digunakan untuk subnetting class C adalah seperti di bawah. Silakan anda coba menghitung seperti cara diatas untuk subnetmask lainnya.
| | | | |
| | Subnet Mask | Nilai CIDR | |
| | 255.255.255.128 | /25 | |
| | 255.255.255.192 | /26 | |
| | 255.255.255.224 | /27 | |
| | 255.255.255.240 | /28 | |
| | 255.255.255.248 | /29 | |
| | 255.255.255.252 | /30 | |
| | | | |
SUBNETTING PADA IP ADDRESS CLASS B
Berikutnya kita akan mencoba melakukan subnetting untuk IP address class B.
Pertama, subnet mask yang bisa digunakan untuk subnetting class B adalah seperti dibawah.
Sengaja saya pisahkan jadi dua, blok sebelah kiri dan kanan karena masing-masing berbeda teknik terutama untuk oktet yang dimainkan berdasarkan blok subnetnya.
CIDR /17 sampai /24 caranya sama persis dengan subnetting Class C, hanya blok subnetnya kita masukkan langsung ke oktet ketiga, bukan seperti Class C yang dimainkan di oktet keempat.
Sedangkan CIDR /25 sampai /30 (kelipatan) blok subnet kita mainkan di oktet keempat, tapi setelah selesai oktet ketiga berjalan maju (coeunter) dari 0, 1, 2, 3, dst.
| | | | | | | |
| | Subnet Mask | Nilai CIDR | | Subnet Mask | Nilai CIDR | |
| | 255.255.128.0 | /17 | | 255.255.255.128 | /25 | |
| | 255.255.192.0 | /18 | | 255.255.255.192 | /26 | |
| | 255.255.224.0 | /19 | | 255.255.255.224 | /27 | |
| | 255.255.240.0 | /20 | |
Artikel Terkait
Penjelasan Tentang Hubungan IP Address, Subnetmask, Default Gateway dan DNS Server
Langkah-Langkah Instalasi Peer To Peer
 |
| Gambar 322. Instalasi Kabel UTP Topologi Peer To Peer |
1. Klik Start. Ketikkan “Control Panel” lalu pilih.
2. Pada tampilan Control panel Pilih “Network and Internet”, lalu klik Network and Sharing Center.
3. Pilih Network and Sharing Center.
4. Pilih Change Adapter Setting, klik kanan pada Local Area Connection.
5. Pilih tab properties.
6. Klik”Internet Protocol Version 4(TCP/IPv4)”.
7. Setelah muncul tampilan seperti dibawah ini, kemudian isi IP di Laptop 1 (192.168.30.2).
8. Lakukan hal yang sama pada komputer yang satunya. Setting dengan IP
9. Setelah muncul tampilan seperti dibawah ini, kemudian isi IP di Laptop 2 (192.168.30.6).
Untuk mengetahui bahwa jaringan terkoneksi atau tidak maka dilakukan tes koneksi ping Laptop A ke Laptop B dan sebaliknya dengan cara, pilih menu Start lalu pilih Run (Windows+R), ketik cmd.
10. Pada laptop 1, Ketikkan IP Adress yang dimiliki laptop 2 (192.168.30.6) dan tekan Enter.
Jika ada pesan Reply ke ip tujuan maka dapat dipastikan Laptop A terkoneksi dengan Laptop B.
11. Pada laptop 2, Ketikkan IP Adress yang dimiliki laptop 1 (192.168.30.2) dan tekan Enter.
Jika ada pesan Reply ke ip tujuan maka dapat dipastikan Laptop 2 terkoneksi dengan Laptop 1.
Jika seluruh tahapan diatas kamu lakukan dengan benar maka kamu akan berhasil dan tidak akan menemukan kendala. Jadi, lakukan dengan teliti dan tidak perlu tergesa-gesa saat melakukan ujian praktikum agar tidak mengulang jika terjadi kesalahan. Manfaatkan waktu dengan baik maka kamu akan memperoleh hasil yang maksimal.
Pembagian IP Address kelas A,B,C
 |
Gambar 257. IP Address A B C |
IP Address adalah nomor unik yang ada pada computer yang bisa berguna untuk menghubungkan banyak computer dalam jaringan sehingga juga dapat bertukar data maupun fasilitas yang dimiliki antar Komputer tersebut….
Nomor ini bersifat unik karena setiap Komputer memiliki TCP/IP yang berbeda-beda .
IP Address merupakan konsekuensi dari penerapan Internet Protocol untuk mengintegrasikan jaringan komputer Internet di dunia. Seluruh host (komputer) yang terhubung ke Internet dan ingin berkomunikasi memakai TCP/IP harus memiliki IP Address sebagai alat pengenal host pada network.
Secara logika, Internet merupakan suatu network besar yang terdiri dari berbagai sub network yang terintegrasi. Oleh karena itu, suatu IP Address harus bersifat unik untuk seluruh dunia.
Tidak boleh ada satu IP Address yang sama dipakai oleh dua host yang berbeda. Untuk itu, penggunaan IP Address di seluruh dunia dikoordinasi oleh lembaga sentral Internet yang di kenal dengan IANA – salah satunya adalah Network Information Center (NIC) yang menjadi koordinator utama di dunia
IP address dibagi menjadi 3 kelas A, Kelas B, dan Kelas C.
- Apa bisa dalam pemakai IP address 3 kelas (A, B, dan C) digubungkan ?
- Jika bisa bagaimana caranya?
- Jika tidak mengapa ? Berikut ini cara cara untuk menjawab pertanyaan berikut……
Kelas A
- IP address kelas A terdiri dari 8 bit untuk network ID dan
- Sisanya 24 bit digunakan untuk host ID,
- Sehingga IP address kelas A digunakan untuk jaringan dengan jumlah host yang sangat besar.
- Pada bit pertama berikan angka 0 sampai dengan 127. (0-127)
- Format : 0NNNNNNN.HHHHHHHH.HHHHHHHH.HHHHHHHH
- Bit Pertama : 0
- NetworkID : 8 bit
- HostID : 24 bit
- Bit Pertama : 0 -127
- Jumlah : 126 (untuk 0 dan 127 dicadangkan)
- Range IP : 1.x.x.x – 126.x.x.x
- Jumlah IP : 16.777.214
Misalnya IP address 120.31.45.18 maka
- Network ID = 120
- HostID = 31.45.18
- Untuk Subnetmask =255.0.0.0
Jadi IP address di atas mempunyai host dengan nomor 31.45.18 pada jaringan 120
Kelas B
- IP address kelas B terdiri dari 16 bit untuk network ID dan
- Sisanya 16 bit digunakan untuk host ID,
- Sehingga IP address kelas B digunakan untuk jaringan dengan jumlah host yang tidak terlalu besar.
- Pada 2 bit pertama berikan angka 10, sehingga bit awal IP tersebut mulai dari (128 – 191).
- Format : 10NNNNNN..NNNNNNNN.HHHHHHHH.HHHHHHHH
- Bit Pertama : 10
- NetworkID : 16 bit
- HostID : 16 bit
- Bit Pertama : 128 -191
- Jumlah : 16.384
- Range IP : 128.1.x.x – 191.155.x.x
- Jumlah IP : 65.532
- Misalnya IP address 150.70.45.18 maka
- Network ID = 150.70
- HostID = 60.56
- Untuk Subnetmask =255.255.0.0
- Jadi IP di atas mempunyai host dengan nomor 60.56 pada jaringan 150.70
Kelas C
- IP address kelas C terdiri dari 24 bit untuk network ID dan
- Sisanya 8 bit digunakan untuk host ID,
- Sehingga IP address kelas C digunakan untuk jaringan untuk ukuran kecil.
- Kelas C biasanya digunakan untuk jaringan Local Area Network atau LAN.
- Biasanya ini terdapat dalam Warnet-Warnet maupun sebuah sekolah.
- Pada 3 bit pertama berikan angka 110 sehingga bit awal IP tersebut mulai dari (192 – 223).
- Format : 110NNNNN.NNNNNNNN.NNNNNNNN.HHHHHHHH
- Bit Pertama : 110
- NetworkID : 24 bit
- HostID : 8 bit
- Bit Pertama : 192 – 223
- Jumlah : 16.384
- Range IP : 192.0.0.x.x – 223.255.255.x.x
- Jumlah IP : 254 IP
- Misalnya IP address 192.168.1.1 maka
- Network ID = 192.168.1
- HostID = 1
- Untuk Subnetmask =255.255.255.0
Jadi IP di atas mempunyai host dengan nomor 1 pada jaringan 192.168.1.
=================== Suplemen =====================
| 7 | 6 | 5 | 4 | 3 | 2 | 1 | 0 | |
| 128 | 64 | 32 | 16 | 8 | 4 | 2 | 1 | |
| 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 1 | Min |
| 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 1 | 1 |
| | | | | | | | |
| 0 | 1 | 1 | 1 | 1 | 1 | 1 | 1 | Max |
| 0 | 64 | 32 | 16 | 8 | 4 | 2 | 1 | 127 |
| | | | | | | | |
| 7 | 6 | 5 | 4 | 3 | 2 | 1 | 0 | |
| 128 | 64 | 32 | 16 | 8 | 4 | 2 | 1 | |
| 1 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | Min |
| 128 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 128 |
| | | | | | | | |
| 1 | 0 | 1 | 1 | 1 | 1 | 1 | 1 | Max |
| 128 | 0 | 32 | 16 | 8 | 4 | 2 | 1 | 191 |
| | | | | | | | |
| 7 | 6 | 5 | 4 | 3 | 2 | 1 | 0 | |
| 128 | 64 | 32 | 16 | 8 | 4 | 2 | 1 | |
| 1 | 1 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | Min |
| 128 | 64 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 192 |
| | | | | | | | |
| 1 | 1 | 0 | 1 | 1 | 1 | 1 | 1 | Max |
| 128 | 64 | 0 | 16 | 8 | 4 | 2 | 1 | 223 |
| | | | | | | | |
| 7 | 6 | 5 | 4 | 3 | 2 | 1 | 0 | |
| 128 | 64 | 32 | 16 | 8 | 4 | 2 | 1 | |
| 1 | 1 | 1 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | Min |
| 128 | 64 | 32 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 224 |
| | | | | | | | |
| 1 | 1 | 1 | 0 | 1 | 1 | 1 | 1 | Max |
| 128 | 64 | 32 | 0 | 8 | 4 | 2 | 1 | 239 |
| | | | | | | | |
| | | | | | | | |