Kamis, 09 April 2026

Artikel Kelompok 3

 

Jaringan Wireless, Point-to-Point (PtP) dan Point-to-Multipoint (PtMP)

Gambar 426 Jaringan Wireless


1. Konsep Dasar Jaringan Wireless

Jaringan wireless adalah jaringan komputer yang menggunakan gelombang radio sebagai media penghantar data, bukan kabel. Dengan wireless, perangkat dapat terhubung tanpa perlu menarik kabel fisik.

1.1 Karakteristik Jaringan Wireless

  • Tidak menggunakan kabel (menggunakan frekuensi radio 2.4 GHz, 5 GHz, 6 GHz, dsb.)
  • Instalasi lebih cepat dan fleksibel.
  • Mobilitas tinggi, pengguna bisa bergerak tetap terhubung.
  • Jangkauan bervariasi, dari jarak beberapa meter (WiFi indoor) sampai puluhan kilometer (Wireless Outdoor).

1.2 Komponen Utama

  1. Access Point (AP) – memancarkan dan menerima sinyal.
  2. Wireless Client – perangkat pengguna (laptop, HP, station/receiver).
  3. Antena – omnidirectional atau directional.
  4. Wireless Controller (opsional) – mengatur banyak AP.
  5.  Repeater/Bridge – memperluas jangkauan

1.3 Frekuensi Umum

  • 2.4 GHz → jauh namun rawan interferensi.
  • 5 GHz → lebih cepat, lebih bersih, jarak lebih pendek.
  • 6 GHz (WiFi 6E) → sangat cepat, jarak sedang.

 

2. Jaringan Wireless Point-to-Point (PtP)

Point-to-Point adalah koneksi wireless antara dua titik, biasanya untuk:

  • Menghubungkan dua gedung
  • Backbone antar tower
  • Mengarahkan data ke lokasi jarak jauh

2.1 Ciri-Ciri PtP

  • Hanya 2 perangkat: satu sebagai AP/Host, satu sebagai Station/Client.
  • Menggunakan antena directional (mis. dish, panel, grid).
  • Kecepatan stabil karena koneksi fokus.
  • Sangat cocok untuk jarak 500 meter hingga 50 km.

2.2 Cara Kerja PtP (Flow)

  • Titik A memancarkan sinyal ke arah titik B.
  • Titik B mengarah tepat ke titik A.
  • Keduanya membuat jembatan wireless (wireless bridge).
  • Lalu lintas jaringan berjalan seperti kabel LAN yang panjang.

2.3 Kelebihan PtP

  • Stabil dan cepat
  • Noise/interferensi kecil
  • Bisa menjangkau jarak jauh

2.4 Kekurangan PtP

  • Hanya menghubungkan 1 ke 1
  • Butuh Line of Sight (LOS) yang bersih

 

3. Jaringan Wireless Point-to-Multipoint (PtMP)

Point-to-Multipoint adalah koneksi satu titik pusat ke beberapa titik sekaligus.

Mirip menara BTS yang melayani banyak perangkat.

3.1 Ciri-Ciri PtMP

  • Ada 1 Access Point (AP) sebagai pusat.
  • Banyak Station/Client yang terhubung (2, 5, atau puluhan).
  • Menggunakan Antena

Antena Omnidirectional (360°)
Sectoral Antenna (mis. 90°, 120°)

  •  Digunakan untuk:

  • Desa internet
  • Pemancar internet ke RW/RT
  • Kampus / sekolah / kantor skala besar
  • CCTV di banyak titik

 

3.2 Cara Kerja PtMP

  • AP memancarkan sinyal dengan pola tertentu (omni/sector).
  • Banyak client menangkap sinyal dari AP.
  • Masing-masing client mendapatkan bandwidth sesuai manajemen AP.
  • Semua client berbagi satu kanal frekuensi.

 

3.3 Kelebihan PtMP

  • Satu AP bisa melayani banyak klien sekaligus.
  • Efisien untuk jaringan komunitas atau kampus.
  • Fleksibel dalam penambahan client.

 

3.4 Kekurangan PtMP

  • Shared bandwidth (kecepatan dibagi).
  • Rentan interferensi jika banyak client.
  • Membutuhkan manajemen frekuensi yang baik.

 

4. Ringkasan Perbedaan PtP dan PtMP

AspekPoint-to-PointPoint-to-Multipoint
Jumlah perangkat
2 titik
1 pusat ke banyak titik
Antena
Directional
Omni / Sector
Stabilitas
Sangat stabil
Dipengaruhi banyak user
Jarak
Jauh (hingga puluhan km)
Sedang (1–10 km)
Kecepatan
Dedicated
Dibagi
Contoh penggunaan
Gedung A ⇆ Gedung B
Tower pusat → banyak rumah

 Konsep Dasar VLSM ( Variable Length Subnet Mask )

Gambar 425 VLSM 

1. Pengertian VLSM

  • VLSM (Variable Length Subnet Mask) adalah teknik subnetting di mana satu jaringan IP dibagi-bagi menjadi subnet dengan ukuran berbeda sesuai kebutuhan host.

  • Tidak semua subnet harus memiliki jumlah host yang sama, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan nyata (efisien dalam penggunaan IP Address).

  • VLSM merupakan pengembangan dari FLSM (Fixed Length Subnet Mask), di mana setiap subnet memiliki ukuran sama.


2. Kenapa VLSM Dibutuhkan?

  • Jika kita menggunakan FLSM, sering terjadi pemborosan IP Address, karena setiap subnet diberikan jumlah host yang sama, meski tidak diperlukan.

  • Dengan VLSM, kita bisa membagi subnet dengan lebih fleksibel:

    • Subnet besar → untuk banyak host.

    • Subnet kecil → untuk sedikit host.


3. Prinsip Dasar VLSM

  1. Hitung kebutuhan host tiap subnet (misalnya LAN A butuh 50 host, LAN B butuh 20 host, LAN C butuh 5 host).

  2. Urutkan kebutuhan dari terbesar ke terkecil.

  3. Ambil blok IP dan subnetkan sesuai kebutuhan terbesar terlebih dahulu.

  4. Subnetkan lagi sisanya untuk kebutuhan yang lebih kecil.

  5. Pastikan tidak ada tumpang tindih alamat (overlap).


4. Contoh Kasus VLSM

Misalnya kita punya Network: 192.168.10.0/24 dan kebutuhan:

  • Subnet A = 100 host
  • Subnet B = 50 host
  • Subnet C = 25 host
  • Subnet D = 10 host

    Solusi dengan VLSM:

    • Subnet A (100 host) → butuh /25 (128 alamat, 126 host) → 192.168.10.0/25
    • Subnet B (  50 host) → butuh /26 (  64 alamat,   62 host) → 192.168.10.128/26
    • Subnet C (  25 host) → butuh /27 (  32 alamat,   30 host) → 192.168.10.192/27
    • Subnet D (  10 host) → butuh /28 (  16 alamat,   14 host) → 192.168.10.224/28

      Semua kebutuhan host terpenuhi tanpa boros IP.

       

      5. Kelebihan VLSM

      • Efisien dalam penggunaan IP Address.
      • Fleksibel untuk berbagai ukuran subnet.
      • Cocok untuk jaringan besar dengan banyak subnet berbeda.

       

        6. Kekurangan VLSM

        • Perhitungannya lebih rumit dibanding FLSM.
        • Perlu dokumentasi yang baik agar tidak terjadi overlap.
        • Hanya bisa digunakan pada routing yang mendukung classless addressing (CIDR).


        Diagram Visual — Alur Perhitungan VLSM

        Contoh praktis: kita punya network 192.168.10.0/24 (256 alamat). Tujuan: alokasikan subnet berbeda-beda sesuai kebutuhan host (besar → kecil) tanpa overlaping.


        Langkah singkat (algoritma)

        1. Hitung kebutuhan host tiap subnet (mis. A:100, B:50, C:25, D:10).
        2. Urutkan kebutuhan dari terbesar ke terkecil.
        3. Ambil blok terbesar yang tersedia dan alokasikan subnet dengan prefix terkecil yang masih memenuhi kebutuhan (mis. butuh ≥100 → pilih /25 karena /25 punya 126 host usable).
        4. Dari sisa blok yang belum terpakai, ulangi langkah 3 untuk kebutuhan berikutnya.
        5. Periksa kembali tidak ada overlap dan dokumentasikan tiap subnet.


        Diagram pembagian (tree) — step-by-step

        192.168.10.0/24  (0 - 255) — total 256 alamat
        ├─ 192.168.10.0/25      (0  - 127)   -> Alokasikan untuk Subnet A (butuh 100 host)
        └─ 192.168.10.128/25    (128 - 255)   -- sisanya, kita subdivide lagi
           ├─ 192.168.10.128/26 (128 - 191)   -> Alokasikan untuk Subnet B (butuh 50 host)
           └─ 192.168.10.192/26 (192 - 255)   -- subdivide lagi
              ├─ 192.168.10.192/27 (192 - 223) -> Alokasikan untuk Subnet C (butuh 25 host)
              └─ 192.168.10.224/27 (224 - 255) -- subdivide lagi
                 ├─ 192.168.10.224/28 (224 - 239) -> Alokasikan untuk Subnet D (butuh 10 host)
                 └─ 192.168.10.240/28 (240 - 255) -> Sisa (cadangan)

        Catatan: setiap kali kita membagi sebuah blok, batasnya harus mengikuti ukuran blok biner (jumlah alamat yang merupakan pangkat dua).

         

        Tabel hasil alokasi (ringkas)


        SubnetPrefixNetworkUsable RangeBroadcastTotal AddrUsable Hosts
        Subnet A/25192.168.10.0192.168.10.1 - 192.168.10.126192.168.10.127128126
        Subnet B/26192.168.10.128192.168.10.129 - 192.168.10.190192.168.10.19164  62
        Subnet C/27192.168.10.192192.168.10.193 - 192.168.10.222192.168.10.22332   30
        Subnet D/28192.168.10.224192.168.10.225 - 192.168.10.238192.168.10.23916          14


        Penjelasan singkat tiap langkah pada contoh

        • /25 membagi /24 menjadi dua blok (0-127 dan 128-255). /25 memberi 128 alamat (126 usable) — cocok untuk kebutuhan ~100 host.
        • /26 membagi satu /25 menjadi dua /26 (masing-masing 64 alamat, 62 usable) — cocok untuk 50 host.
        • /27 memberi 32 alamat (30 usable) — cocok untuk 25 host.
        • /28 memberi 16 alamat (14 usable) — cocok untuk 10 host.


          Tips praktis & checklist

          • Urutkan kebutuhan dari terbesar → terkecil agar menghindari fragmentasi yang menyebabkan tidak tersedianya blok besar.
          • Gunakan kalkulator subnet (atau spreadsheet) untuk menghindari kesalahan perhitungan.
          • Dokumentasikan setiap alokasi: network, prefix, gateway (biasanya .1), range DHCP, purpose.
          • Periksa overlap: semua network harus non-overlapping.
          • Simpan cadangan: sisakan beberapa blok kecil untuk pertumbuhan mendadak.
          • Router dan perangkat harus mendukung CIDR / classless routing agar VLSM berfungsi (sebagian besar perangkat modern sudah mendukung).


            Checklist validasi akhir sebelum deploy

            • Semua kebutuhan host terpenuhi
            • Tidak ada alamat yang overlap
            • Gateway dan DHCP terdefinisi untuk tiap subnet
            • Dokumentasi siap (tabel + diagram)
            • Cadangan alamat tersedia untuk pertumbuhan


             Pengertian HTB dalam Komunikasi Serat Optik

            Gambar 406. HTB atau Hybrid Transmission Box


            Dalam konteks komunikasi serat optik, HTB biasanya merujuk pada Hybrid Transmission Box. Ini adalah perangkat atau sistem yang digunakan untuk menggabungkan atau mengelola berbagai jenis sinyal dalam sistem transmisi serat optik. Berikut adalah beberapa penjelasan terkait:


            Fungsi HTB dalam Komunikasi Serat Optik

            1. Konversi Sinyal

            HTB sering digunakan untuk mengonversi sinyal listrik (dari kabel tembaga) menjadi sinyal optik (untuk ditransmisikan melalui serat optik), atau sebaliknya.

            2. Penggabungan dan Distribusi Sinyal

            HTB dapat menggabungkan beberapa jenis sinyal (seperti data, suara, atau video) ke dalam satu jalur transmisi serat optik, sehingga memanfaatkan kapasitas serat secara lebih efisien.

            3. Interkoneksi Antar Jaringan:

            HTB memungkinkan integrasi antara jaringan kabel konvensional (misalnya Ethernet) dengan jaringan berbasis serat optik.

            4. Konverter Media:

            HTB sering digunakan sebagai konverter media dalam sistem FTTH (Fiber to the Home) atau jaringan optik lainnya.

            5. Contoh Penggunaan HTB:

            • Jaringan FTTH (Fiber to the Home): 

            HTB digunakan di sisi pelanggan untuk menghubungkan perangkat rumah (seperti komputer atau router) dengan jaringan serat optik.

            • Infrastruktur Jaringan Kampus atau Perkantoran:

            HTB membantu mentransmisikan data dalam jarak jauh melalui serat optik, dengan titik penghubung yang mudah antara jaringan optik dan perangkat berbasis kabel tembaga.


            Konsep Dasar Media Converter HTB dengan Port RJ-45 dan Port Fiber Optic

              1. Apa itu Media Converter HTB?

            Media Converter HTB adalah perangkat jaringan yang berfungsi untuk mengubah atau mengonversi sinyal dari kabel tembaga (Ethernet UTP, RJ-45) ke kabel serat optik (Fiber Optic, SFP atau SC/LC connector) dan sebaliknya. Perangkat ini memungkinkan integrasi jaringan berbasis tembaga dan serat optik, sehingga transmisi data dapat dilakukan lebih jauh dengan kecepatan yang tinggi.
            Media Converter HTB sering digunakan dalam jaringan Metropolitan Area Network (MAN), kampus, perkantoran, serta jaringan Fiber to the Home (FTTH).
             

             2. Struktur dan Komponen Media Converter HTB

            Media Converter HTB biasanya memiliki dua port utama:
            §  Port RJ-45 (Ethernet UTP) 
            → Untuk koneksi ke perangkat jaringan berbasis tembaga seperti switch, router, atau komputer. 
            → Mendukung standar 10/100/1000 Mbps (Fast Ethernet atau Gigabit Ethernet). 
            §  Port Fiber Optic (SC/LC atau SFP Slot) 
            → Untuk koneksi ke jaringan serat optik, mendukung single-mode atau multi-mode fiber. 
            → Dapat mentransmisikan data hingga 20 km atau lebih, tergantung jenis fiber opticnya. 
            Beberapa model juga memiliki fitur seperti Auto MDI/MDIX, yang memungkinkan penggunaan kabel straight atau crossover tanpa konfigurasi tambahan.
             

             3. Cara Kerja Media Converter HTB

             3.1 Konversi Sinyal Elektrik ke Optik 

            §  Data dari perangkat jaringan (misalnya, switch atau komputer) masuk melalui port RJ-45 sebagai sinyal listrik.
            §  Media converter mengubah sinyal listrik tersebut menjadi sinyal optik untuk ditransmisikan melalui kabel fiber optic.

            3.2  Transmisi Melalui Kabel Serat Optik 

               §  Sinyal optik yang dikonversi dikirim melalui serat optik ke perangkat tujuan, seperti switch atau media converter lainnya.

              §  Serat optik memungkinkan transmisi data jarak jauh dengan latensi rendah dan interferensi minimal.

            3.3. Konversi Sinyal Optik ke Elektrik 

            §  Perangkat penerima (misalnya, media converter lain) akan mengubah kembali sinyal optik menjadi sinyal listrik. 
            §  Sinyal listrik kemudian dikirim ke perangkat jaringan lainnya melalui kabel UTP.

            Dengan cara ini, media converter HTB memungkinkan perangkat berbasis Ethernet UTP berkomunikasi melalui jaringan fiber optic tanpa perlu mengganti infrastruktur jaringan yang ada.


             4. Jenis Media Converter HTB

            4.1. HTB-3100 Series 
            §  Model standar dengan port 10/100 Mbps RJ-45 dan port fiber optic SC. 
            §  Cocok untuk jaringan fiber optik jarak menengah (hingga 20 km). 

            4.2. HTB-4100 Series (Gigabit) 
            §  Mendukung kecepatan 10/100/1000 Mbps untuk koneksi Ethernet. 
            §  Digunakan dalam jaringan backbone dengan bandwidth tinggi. 

            4.3. HTB dengan SFP Slot 
            §  Memungkinkan penggunaan modul SFP (Small Form-factor Pluggable) yang bisa diganti sesuai kebutuhan jaringan. 
            §  Lebih fleksibel dibanding model fixed port fiber SC/LC.

             

             5. Keuntungan Menggunakan Media Converter HTB

                5.1 Memperpanjang Jangkauan Jaringan 

            §  Ethernet UTP biasanya hanya mencapai 100 meter, sedangkan dengan fiber optic bisa mencapai 20 km atau lebih.

              5.2 Meningkatkan Keamanan dan Keandalan 

            §  Serat optik tidak terpengaruh oleh interferensi elektromagnetik (EMI), sehingga lebih stabil dibanding kabel tembaga. 

              5.3 Mengurangi Biaya Infrastruktur 

            §  Tidak perlu mengganti seluruh perangkat jaringan ke fiber optic, cukup menggunakan media converter untuk transisi bertahap. 

              5.4 Kompatibel dengan Berbagai Perangkat 

            §  Bisa digunakan dengan switch, router, firewall, atau perangkat jaringan lainnya tanpa perlu perubahan besar dalam konfigurasi. 

             

             6. Contoh Penggunaan Media Converter HTB

            6.1 Jaringan Kampus atau Perkantoran 
            §  Digunakan untuk menghubungkan dua gedung dengan kabel fiber optic sambil tetap menggunakan jaringan Ethernet UTP di dalam gedung. 
            6.2 Jaringan FTTH (Fiber to the Home) 
            §  ISP menggunakan media converter untuk menghubungkan serat optik dari OLT (Optical Line Terminal) ke perangkat pelanggan. 
            6.3   Jaringan CCTV Jarak Jauh 
            §  Digunakan untuk menghubungkan kamera CCTV berbasis IP ke pusat kontrol melalui jaringan fiber optic. 

            Kesimpulan

            Media Converter HTB adalah solusi praktis untuk mengintegrasikan jaringan Ethernet berbasis kabel tembaga dengan jaringan serat optik. Dengan teknologi ini, jaringan dapat diperluas tanpa harus mengganti seluruh infrastruktur yang sudah ada, sehingga lebih hemat biaya dan lebih fleksibel dalam pengelolaan jaringan.


              Prinsip Dasar Sistem Networking Service


            Gambar 391. Sistem Networking Service
            Prinsip dasar sistem networking service melibatkan berbagai konsep dan teknologi yang memungkinkan perangkat komputer dan perangkat lain untuk saling berkomunikasi dan berbagi sumber daya. Berikut adalah beberapa prinsip dasar dalam sistem jaringan layanan (networking service):

            1. Layered Architecture:

            §  Model OSI (Open Systems Interconnection): Model OSI adalah model referensi untuk bagaimana aplikasi dapat berkomunikasi melalui jaringan. Terdiri dari tujuh lapisan: Physical, Data Link, Network, Transport, Session, Presentation, dan Application.

            §  Model TCP/IP: Model ini lebih praktis dan terdiri dari empat lapisan: Link, Internet, Transport, dan Application.

            2. Addressing:

            §  IP Addressing: Setiap perangkat yang terhubung ke jaringan memiliki alamat IP unik yang digunakan untuk mengidentifikasi dan mengarahkan paket data.

            §  MAC Addressing: Alamat fisik yang ditetapkan pada kartu jaringan perangkat, digunakan untuk komunikasi pada lapisan Data Link.

            3. Routing and Switching:

            §  Routing: Proses pengiriman paket data dari satu jaringan ke jaringan lain. Router adalah perangkat yang digunakan untuk menentukan jalur terbaik bagi paket data.

            § Switching: Proses pengiriman paket data di dalam jaringan lokal. Switch adalah perangkat yang menghubungkan berbagai perangkat dalam satu jaringan.

            4. Protocols:

            §  Transmission Control Protocol (TCP): Menyediakan koneksi yang andal dan memastikan data dikirim secara urut dan tanpa kesalahan.

            §  User Datagram Protocol (UDP): Menyediakan koneksi yang tidak andal, digunakan untuk aplikasi yang membutuhkan kecepatan lebih tinggi dan toleransi terhadap kehilangan data.

            §  HyperText Transfer Protocol (HTTP/HTTPS): Digunakan untuk mengakses dan mentransfer halaman web.

            §  Simple Mail Transfer Protocol (SMTP): Digunakan untuk mengirim email.

            5. Network Security:

            §  Firewall: Perangkat atau perangkat lunak yang digunakan untuk mengontrol dan mengamankan lalu lintas jaringan berdasarkan aturan keamanan.

            §  Encryption: Proses mengamankan data dengan mengubahnya menjadi format yang tidak bisa dibaca tanpa kunci dekripsi yang benar.

            §  Virtual Private Network (VPN): Mengamankan koneksi jaringan dengan membuat jalur komunikasi yang terenkripsi antara dua titik.

            6. Network Services:

            § Domain Name System (DNS): Sistem yang menerjemahkan nama domain (misalnya, www.example.com) menjadi alamat IP.

            § Dynamic Host Configuration Protocol (DHCP): Protokol yang secara otomatis memberikan alamat IP kepada perangkat di jaringan.

            7. Bandwidth and Throughput:

            §  Bandwidth: Kapasitas maksimum jaringan untuk mentransfer data dalam satu waktu.

            §  Throughput: Jumlah data yang benar-benar berhasil ditransfer dalam periode waktu tertentu.

            8. Quality of Service (QoS):

            §  Teknik untuk mengelola dan memastikan kinerja yang dapat diprediksi dari layanan jaringan dengan prioritas tertentu, misalnya, memberikan prioritas lebih tinggi pada lalu lintas suara atau video dibandingkan dengan lalu lintas data lainnya.

            Prinsip-prinsip ini bersama-sama membentuk dasar bagaimana jaringan layanan bekerja dan memberikan fondasi untuk desain, implementasi, dan manajemen jaringan yang efektif dan efisien.


             Penghitungan Subnetting

            Gambar 348. Subnetting


            Setelah anda membaca artikel Konsep Subnetting, Siapa Takut? dan memahami konsep Subnetting dengan baik. Kali ini saatnya anda mempelajari teknik penghitungan subnetting. Penghitungan subnetting bisa dilakukan dengan dua cara, cara binary yang relatif lambat dan cara khusus yang lebih cepat. 


            Pada hakekatnya semua pertanyaan tentang subnetting akan berkisar di empat masalah: Jumlah Subnet, Jumlah Host per Subnet, Blok Subnet, dan Alamat Host- Broadcast.


            Penulisan IP address umumnya adalah dengan 192.168.1.2. Namun adakalanya ditulis dengan 192.168.1.2/24, apa ini artinya? Artinya bahwa IP address 192.168.1.2 dengan subnet mask 255.255.255.0. 


            Lho kok bisa seperti itu? Ya, /24 diambil dari penghitungan bahwa 24 bit subnet mask diselubung dengan binari 1. Atau dengan kata lain, subnet masknya adalah: 11111111.11111111.11111111.00000000 (255.255.255.0). 


            Konsep ini yang disebut dengan CIDR (Classless Inter-Domain Routing) yang diperkenalkan pertama kali tahun 1992 oleh IEFT. Pertanyaan berikutnya adalah Subnet Mask berapa saja yang bisa digunakan untuk melakukan subnetting? Ini terjawab dengan tabel di bawah:


                   
             Subnet MaskNilai CIDR Subnet MaskNilai CIDR 
             255.128.0.0/9 255.255.240.0/20 
             255.192.0.0/10 255.255.248.0/21 
             255.224.0.0/11 255.255.252.0/22 
             255.240.0.0/12 255.255.254.0/23 
             255.248.0.0/13 255.255.255.0/24 
             255.252.0.0/14 255.255.255.128/25 
             255.254.0.0/15 255.255.255.192/26 
             255.255.0.0/16 255.255.255.224/27 
             255.255.128.0/17 255.255.255.240/28 
             255.255.192.0/18 255.255.255.248/29 
             255.255.224.0/19 255.255.255.252/30 
                   

            SUBNETTING PADA IP ADDRESS CLASS C

            Ok, sekarang mari langsung latihan saja. Subnetting seperti apa yang terjadi dengan sebuah NETWORK ADDRESS 192.168.1.0/26 ?


            Analisa: 
            192.168.1.0 berarti kelas C dengan 
            Subnet Mask /26 berarti 11111111.11111111.11111111.11000000 (255.255.255.192).

            Penghitungan: 
            Seperti sudah saya sebutkan sebelumnya semua pertanyaan tentang subnetting akan berpusat di 4 hal, jumlah subnet, jumlah host per subnet, blok subnet, alamat host dan broadcast yang valid. Jadi kita selesaikan dengan urutan seperti itu:

            1. Jumlah Subnet = 2^x (Dua pangkat x), 
            dimana x adalah banyaknya binari 1 pada oktet terakhir subnet mask 
            (2 oktet terakhir untuk kelas B, dan 3 oktet terakhir untuk kelas A). 
            Jadi Jumlah Subnet adalah 2^2 = 4 subnet

            2. Jumlah Host per Subnet = 2^y – 2, 
            dimana y adalah adalah kebalikan dari x yaitu banyaknya binari 0 pada oktet terakhir subnet. 
            Jadi jumlah host per subnet adalah 2^6 – 2 = 62 host

            3. Blok Subnet = 256 – 192
            (nilai oktet terakhir subnet mask) = 64.
            Subnet berikutnya adalah 64 + 64 = 128, dan 128+64=192.
            Jadi subnet lengkapnya adalah 0, 64, 128, 192.

            4. Alamat host dan broadcast yang valid ? 
            Kita langsung buat tabelnya. 

            Sebagai catatan, host pertama adalah 1 angka setelah subnet, dan broadcast adalah 1 angka sebelum subnet berikutnya.


                   
             
            Subnet
            192.168.1.0
            192.168.1.64
            192.168.1.128
            192.168.1.192
             
             
            Host Pertama
            192.168.1.1
            192.168.1.65
            192.168.1.129
            192.168.1.193
             
             
            Host Terakhir
            192.168.1.62
            192.168.1.126
            192.168.1.190
            192.168.1.254
             
             
            Broadcast
            192.168.1.63
            192.168.1.127
            192.168.1.191
            192.168.1.255
             
                   
                   

            Kita sudah selesaikan subnetting untuk IP address Class C. Dan kita bisa melanjutkan lagi untuk subnet mask yang lain, dengan konsep dan teknik yang sama. Subnet mask yang bisa digunakan untuk subnetting class C adalah seperti di bawah. Silakan anda coba menghitung seperti cara diatas untuk subnetmask lainnya.


                
             Subnet MaskNilai CIDR 
             255.255.255.128/25 
             255.255.255.192/26 
             255.255.255.224/27 
             255.255.255.240/28 
             255.255.255.248/29 
             255.255.255.252/30 
                



            SUBNETTING PADA IP ADDRESS CLASS B

            Berikutnya kita akan mencoba melakukan subnetting untuk IP address class B. 

            Pertama, subnet mask yang bisa digunakan untuk subnetting class B adalah seperti dibawah. 

            Sengaja saya pisahkan jadi dua, blok sebelah kiri dan kanan karena masing-masing berbeda teknik terutama untuk oktet yang dimainkan berdasarkan blok subnetnya. 

            CIDR /17 sampai /24 caranya sama persis dengan subnetting Class C, hanya blok subnetnya kita masukkan langsung ke oktet ketiga, bukan seperti Class C yang dimainkan di oktet keempat. 

            Sedangkan CIDR /25 sampai /30 (kelipatan) blok subnet kita mainkan di oktet keempat, tapi setelah selesai oktet ketiga berjalan maju (coeunter) dari 0, 1, 2, 3, dst.


                   
             Subnet MaskNilai CIDR Subnet MaskNilai CIDR 
             255.255.128.0/17 255.255.255.128/25 
             255.255.192.0/18 255.255.255.192/26 
             255.255.224.0/19 255.255.255.224/27 
             255.255.240.0/20 


            Artikel Terkait
            Penjelasan Tentang Hubungan IP Address, Subnetmask, Default Gateway dan DNS Server


             Langkah-Langkah Instalasi Peer To Peer

            Gambar 322. Instalasi Kabel UTP Topologi Peer To Peer


            1. Klik Start. Ketikkan “Control Panel” lalu pilih.
            2. Pada tampilan Control panel Pilih “Network and Internet”, lalu klik Network and Sharing Center.
            3. Pilih Network and Sharing Center.
            4. Pilih Change Adapter Setting, klik kanan pada Local Area Connection.
            5. Pilih tab properties.
            6. Klik”Internet Protocol Version 4(TCP/IPv4)”.
            7. Setelah muncul tampilan seperti dibawah ini, kemudian isi IP di Laptop 1 (192.168.30.2).






            8. Lakukan hal yang sama pada komputer yang satunya. Setting dengan IP
            9. Setelah muncul tampilan seperti dibawah ini, kemudian isi IP di Laptop 2 (192.168.30.6).




            Untuk mengetahui bahwa jaringan terkoneksi atau tidak maka dilakukan tes koneksi ping Laptop A ke Laptop B dan sebaliknya dengan cara, pilih menu Start lalu pilih Run (Windows+R), ketik cmd.

            10. Pada laptop 1, Ketikkan IP Adress yang dimiliki laptop 2 (192.168.30.6) dan tekan Enter. 
                  Jika ada pesan Reply ke ip tujuan maka dapat dipastikan Laptop A terkoneksi dengan Laptop B.


            Ping Laptop A ke B


            11. Pada laptop 2, Ketikkan IP Adress yang dimiliki laptop 1 (192.168.30.2) dan tekan Enter. 
                  Jika ada pesan Reply ke ip tujuan maka dapat dipastikan Laptop 2 terkoneksi dengan Laptop 1.


            Ping Laptop B ke A

            Jika seluruh tahapan diatas kamu lakukan dengan benar maka kamu akan berhasil dan tidak akan menemukan kendala. Jadi, lakukan dengan teliti dan tidak perlu tergesa-gesa saat melakukan ujian praktikum agar tidak mengulang jika terjadi kesalahan. Manfaatkan waktu dengan baik maka kamu akan memperoleh hasil yang maksimal.

            Sekian pembahasan kami tentang "Tahapan Lengkap Praktikum Pengkabelan UTP Beserta Gambar". Jangan sungkan untuk bertanya melalui kolom komentar dibawah. Share bila dirasa artikel ini bermanfaat, Terimakasih.

            Sumber :

             Pembagian IP Address kelas A,B,C



            Gambar 257. IP Address A B C


            IP Address adalah nomor unik yang ada pada computer yang bisa berguna untuk menghubungkan banyak computer dalam jaringan sehingga juga dapat bertukar data maupun fasilitas yang dimiliki antar Komputer tersebut….



            Nomor ini bersifat unik karena setiap Komputer memiliki TCP/IP yang berbeda-beda .

            IP Address merupakan konsekuensi dari penerapan Internet Protocol untuk mengintegrasikan jaringan komputer Internet di dunia. Seluruh host (komputer) yang terhubung ke Internet dan ingin berkomunikasi memakai TCP/IP harus memiliki IP Address sebagai alat pengenal host pada network. 

            Secara logika, Internet merupakan suatu network besar yang terdiri dari berbagai sub network yang terintegrasi. Oleh karena itu, suatu IP Address harus bersifat unik untuk seluruh dunia. 

            Tidak boleh ada satu IP Address yang sama dipakai oleh dua host yang berbeda. Untuk itu, penggunaan IP Address di seluruh dunia dikoordinasi oleh lembaga sentral Internet yang di kenal dengan IANA – salah satunya adalah Network Information Center (NIC) yang menjadi koordinator utama di dunia

            IP address dibagi menjadi 3 kelas A, Kelas B, dan Kelas C.


            • Apa bisa dalam pemakai IP address 3 kelas (A, B, dan C) digubungkan ?
            • Jika bisa bagaimana caranya?
            • Jika tidak mengapa ? Berikut ini cara cara untuk menjawab pertanyaan berikut……

            Kelas A

            • IP address kelas A terdiri dari 8 bit untuk network ID dan 
            • Sisanya 24 bit digunakan untuk host ID, 
            • Sehingga IP address kelas A digunakan untuk jaringan dengan jumlah host yang sangat besar. 
            • Pada bit pertama berikan angka 0 sampai dengan 127. (0-127)

            Karakteristik IP Kelas A

            • Format : 0NNNNNNN.HHHHHHHH.HHHHHHHH.HHHHHHHH
            • Bit Pertama : 0
            • NetworkID : 8 bit
            • HostID : 24 bit
            • Bit Pertama : 0 -127
            • Jumlah : 126 (untuk 0 dan 127 dicadangkan)
            • Range IP : 1.x.x.x – 126.x.x.x
            • Jumlah IP : 16.777.214
            Misalnya IP address 120.31.45.18 maka

            • Network ID = 120
            • HostID = 31.45.18
            • Untuk Subnetmask =255.0.0.0
            Jadi IP address di atas mempunyai host dengan nomor 31.45.18 pada jaringan 120

            Kelas B

            • IP address kelas B terdiri dari 16 bit untuk network ID dan 
            • Sisanya 16 bit digunakan untuk host ID, 
            • Sehingga IP address kelas B digunakan untuk jaringan dengan jumlah host yang tidak terlalu besar. 
            • Pada 2 bit pertama berikan angka 10, sehingga bit awal IP tersebut mulai dari (128 – 191).
            Karakteristik IP Kelas B

            • Format : 10NNNNNN..NNNNNNNN.HHHHHHHH.HHHHHHHH
            • Bit Pertama : 10
            • NetworkID : 16 bit
            • HostID : 16 bit
            • Bit Pertama : 128 -191
            • Jumlah : 16.384
            • Range IP : 128.1.x.x – 191.155.x.x
            • Jumlah IP : 65.532
            • Misalnya IP address 150.70.45.18 maka
            • Network ID = 150.70
            • HostID = 60.56
            • Untuk Subnetmask =255.255.0.0
            • Jadi IP di atas mempunyai host dengan nomor 60.56 pada jaringan 150.70

            Kelas C

            • IP address kelas C terdiri dari 24 bit untuk network ID dan 
            • Sisanya 8 bit digunakan untuk host ID, 
            • Sehingga IP address kelas C digunakan untuk jaringan untuk ukuran kecil. 
            • Kelas C biasanya digunakan untuk jaringan Local Area Network atau LAN. 
            • Biasanya ini terdapat dalam Warnet-Warnet maupun sebuah sekolah. 
            • Pada 3 bit pertama berikan angka 110 sehingga bit awal IP tersebut mulai dari (192 – 223).
            Karakteristik IP Kelas C

            • Format : 110NNNNN.NNNNNNNN.NNNNNNNN.HHHHHHHH
            • Bit Pertama : 110
            • NetworkID : 24 bit
            • HostID : 8 bit
            • Bit Pertama : 192 – 223
            • Jumlah : 16.384
            • Range IP : 192.0.0.x.x – 223.255.255.x.x
            • Jumlah IP : 254 IP
            • Misalnya IP address 192.168.1.1 maka
            • Network ID = 192.168.1
            • HostID = 1
            • Untuk Subnetmask =255.255.255.0

            Jadi IP di atas mempunyai host dengan nomor 1 pada jaringan 192.168.1. 

            =================== Suplemen =====================

            76543210
            1286432168421
            00000001Min
            000000011
            01111111Max
            06432168421127
            76543210
            1286432168421
            10000000Min
            1280000000128
            10111111Max
            128032168421191
            76543210
            1286432168421
            11000000Min
            12864000000192
            11011111Max
            128640168421223
            76543210
            1286432168421
            11100000Min
            128643200000224
            11101111Max
            128643208421239

            Tidak ada komentar:

            Posting Komentar