Jaringan Wireless, Point-to-Point (PtP) dan Point-to-Multipoint (PtMP)
| Gambar 426 Jaringan Wireless |
1. Konsep Dasar Jaringan Wireless
Jaringan wireless adalah jaringan komputer yang menggunakan gelombang radio sebagai media penghantar data, bukan kabel. Dengan wireless, perangkat dapat terhubung tanpa perlu menarik kabel fisik.
1.1 Karakteristik Jaringan Wireless
- Tidak menggunakan kabel (menggunakan frekuensi radio 2.4 GHz, 5 GHz, 6 GHz, dsb.)
- Instalasi lebih cepat dan fleksibel.
- Mobilitas tinggi, pengguna bisa bergerak tetap terhubung.
- Jangkauan bervariasi, dari jarak beberapa meter (WiFi indoor) sampai puluhan kilometer (Wireless Outdoor).
1.2 Komponen Utama
- Access Point (AP) – memancarkan dan menerima sinyal.
- Wireless Client – perangkat pengguna (laptop, HP, station/receiver).
- Antena – omnidirectional atau directional.
- Wireless Controller (opsional) – mengatur banyak AP.
- Repeater/Bridge – memperluas jangkauan
1.3 Frekuensi Umum
- 2.4 GHz → jauh namun rawan interferensi.
- 5 GHz → lebih cepat, lebih bersih, jarak lebih pendek.
- 6 GHz (WiFi 6E) → sangat cepat, jarak sedang.
2. Jaringan Wireless Point-to-Point (PtP)
Point-to-Point adalah koneksi wireless antara dua titik, biasanya untuk:
- Menghubungkan dua gedung
- Backbone antar tower
- Mengarahkan data ke lokasi jarak jauh
2.1 Ciri-Ciri PtP
- Hanya 2 perangkat: satu sebagai AP/Host, satu sebagai Station/Client.
- Menggunakan antena directional (mis. dish, panel, grid).
- Kecepatan stabil karena koneksi fokus.
- Sangat cocok untuk jarak 500 meter hingga 50 km.
2.2 Cara Kerja PtP (Flow)
- Titik A memancarkan sinyal ke arah titik B.
- Titik B mengarah tepat ke titik A.
- Keduanya membuat jembatan wireless (wireless bridge).
- Lalu lintas jaringan berjalan seperti kabel LAN yang panjang.
2.3 Kelebihan PtP
- Stabil dan cepat
- Noise/interferensi kecil
- Bisa menjangkau jarak jauh
2.4 Kekurangan PtP
- Hanya menghubungkan 1 ke 1
- Butuh Line of Sight (LOS) yang bersih
3. Jaringan Wireless Point-to-Multipoint (PtMP)
Point-to-Multipoint adalah koneksi satu titik pusat ke beberapa titik sekaligus.
Mirip menara BTS yang melayani banyak perangkat.
3.1 Ciri-Ciri PtMP
- Ada 1 Access Point (AP) sebagai pusat.
- Banyak Station/Client yang terhubung (2, 5, atau puluhan).
Menggunakan Antena
Antena Omnidirectional (360°)Sectoral Antenna (mis. 90°, 120°)
- Digunakan untuk:
- Desa internet
- Pemancar internet ke RW/RT
- Kampus / sekolah / kantor skala besar
- CCTV di banyak titik
3.2 Cara Kerja PtMP
- AP memancarkan sinyal dengan pola tertentu (omni/sector).
- Banyak client menangkap sinyal dari AP.
- Masing-masing client mendapatkan bandwidth sesuai manajemen AP.
- Semua client berbagi satu kanal frekuensi.
3.3 Kelebihan PtMP
- Satu AP bisa melayani banyak klien sekaligus.
- Efisien untuk jaringan komunitas atau kampus.
- Fleksibel dalam penambahan client.
3.4 Kekurangan PtMP
- Shared bandwidth (kecepatan dibagi).
- Rentan interferensi jika banyak client.
- Membutuhkan manajemen frekuensi yang baik.
4. Ringkasan Perbedaan PtP dan PtMP
| Aspek | Point-to-Point | Point-to-Multipoint |
|---|---|---|
Jumlah perangkat | 2 titik | 1 pusat ke banyak titik |
Antena | Directional | Omni / Sector |
Stabilitas | Sangat stabil | Dipengaruhi banyak user |
Jarak | Jauh (hingga puluhan km) | Sedang (1–10 km) |
Kecepatan | Dedicated | Dibagi |
Contoh penggunaan | Gedung A ⇆ Gedung B | Tower pusat → banyak rumah |
Konsep Dasar VLSM ( Variable Length Subnet Mask )
| Gambar 425 VLSM |
1. Pengertian VLSM
VLSM (Variable Length Subnet Mask) adalah teknik subnetting di mana satu jaringan IP dibagi-bagi menjadi subnet dengan ukuran berbeda sesuai kebutuhan host.
Tidak semua subnet harus memiliki jumlah host yang sama, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan nyata (efisien dalam penggunaan IP Address).
VLSM merupakan pengembangan dari FLSM (Fixed Length Subnet Mask), di mana setiap subnet memiliki ukuran sama.
2. Kenapa VLSM Dibutuhkan?
Jika kita menggunakan FLSM, sering terjadi pemborosan IP Address, karena setiap subnet diberikan jumlah host yang sama, meski tidak diperlukan.
Dengan VLSM, kita bisa membagi subnet dengan lebih fleksibel:
Subnet besar → untuk banyak host.
Subnet kecil → untuk sedikit host.
3. Prinsip Dasar VLSM
Hitung kebutuhan host tiap subnet (misalnya LAN A butuh 50 host, LAN B butuh 20 host, LAN C butuh 5 host).
Urutkan kebutuhan dari terbesar ke terkecil.
Ambil blok IP dan subnetkan sesuai kebutuhan terbesar terlebih dahulu.
Subnetkan lagi sisanya untuk kebutuhan yang lebih kecil.
Pastikan tidak ada tumpang tindih alamat (overlap).
4. Contoh Kasus VLSM
Misalnya kita punya Network: 192.168.10.0/24 dan kebutuhan:
- Subnet A = 100 host
- Subnet B = 50 host
- Subnet C = 25 host
- Subnet D = 10 host
Solusi dengan VLSM:
- Subnet A (100 host) → butuh /25 (128 alamat, 126 host) → 192.168.10.0/25
- Subnet B ( 50 host) → butuh /26 ( 64 alamat, 62 host) → 192.168.10.128/26
- Subnet C ( 25 host) → butuh /27 ( 32 alamat, 30 host) → 192.168.10.192/27
- Subnet D ( 10 host) → butuh /28 ( 16 alamat, 14 host) → 192.168.10.224/28
Semua kebutuhan host terpenuhi tanpa boros IP.
5. Kelebihan VLSM
- Efisien dalam penggunaan IP Address.
- Fleksibel untuk berbagai ukuran subnet.
- Cocok untuk jaringan besar dengan banyak subnet berbeda.
6. Kekurangan VLSM
- Perhitungannya lebih rumit dibanding FLSM.
- Perlu dokumentasi yang baik agar tidak terjadi overlap.
- Hanya bisa digunakan pada routing yang mendukung classless addressing (CIDR).
Diagram Visual — Alur Perhitungan VLSM
Contoh praktis: kita punya network 192.168.10.0/24 (256 alamat). Tujuan: alokasikan subnet berbeda-beda sesuai kebutuhan host (besar → kecil) tanpa overlaping.
Langkah singkat (algoritma)
- Hitung kebutuhan host tiap subnet (mis. A:100, B:50, C:25, D:10).
- Urutkan kebutuhan dari terbesar ke terkecil.
- Ambil blok terbesar yang tersedia dan alokasikan subnet dengan prefix terkecil yang masih memenuhi kebutuhan (mis. butuh ≥100 → pilih /25 karena /25 punya 126 host usable).
- Dari sisa blok yang belum terpakai, ulangi langkah 3 untuk kebutuhan berikutnya.
- Periksa kembali tidak ada overlap dan dokumentasikan tiap subnet.
Diagram pembagian (tree) — step-by-step
192.168.10.0/24 (0 - 255) — total 256 alamat├─ 192.168.10.0/25 (0 - 127) -> Alokasikan untuk Subnet A (butuh 100 host)└─ 192.168.10.128/25 (128 - 255) -- sisanya, kita subdivide lagi├─ 192.168.10.128/26 (128 - 191) -> Alokasikan untuk Subnet B (butuh 50 host)└─ 192.168.10.192/26 (192 - 255) -- subdivide lagi├─ 192.168.10.192/27 (192 - 223) -> Alokasikan untuk Subnet C (butuh 25 host)└─ 192.168.10.224/27 (224 - 255) -- subdivide lagi├─ 192.168.10.224/28 (224 - 239) -> Alokasikan untuk Subnet D (butuh 10 host)└─ 192.168.10.240/28 (240 - 255) -> Sisa (cadangan)
Catatan: setiap kali kita membagi sebuah blok, batasnya harus mengikuti ukuran blok biner (jumlah alamat yang merupakan pangkat dua).
Tabel hasil alokasi (ringkas)
Subnet Prefix Network Usable Range Broadcast Total Addr Usable Hosts Subnet A /25192.168.10.0192.168.10.1 - 192.168.10.126192.168.10.127128 126 Subnet B /26192.168.10.128192.168.10.129 - 192.168.10.190192.168.10.19164 62 Subnet C /27192.168.10.192192.168.10.193 - 192.168.10.222192.168.10.22332 30 Subnet D /28192.168.10.224192.168.10.225 - 192.168.10.238192.168.10.23916 14
Penjelasan singkat tiap langkah pada contoh
- /25 membagi /24 menjadi dua blok (0-127 dan 128-255). /25 memberi 128 alamat (126 usable) — cocok untuk kebutuhan ~100 host.
- /26 membagi satu /25 menjadi dua /26 (masing-masing 64 alamat, 62 usable) — cocok untuk 50 host.
- /27 memberi 32 alamat (30 usable) — cocok untuk 25 host.
- /28 memberi 16 alamat (14 usable) — cocok untuk 10 host.
Tips praktis & checklist
- Urutkan kebutuhan dari terbesar → terkecil agar menghindari fragmentasi yang menyebabkan tidak tersedianya blok besar.
- Gunakan kalkulator subnet (atau spreadsheet) untuk menghindari kesalahan perhitungan.
- Dokumentasikan setiap alokasi: network, prefix, gateway (biasanya .1), range DHCP, purpose.
- Periksa overlap: semua network harus non-overlapping.
- Simpan cadangan: sisakan beberapa blok kecil untuk pertumbuhan mendadak.
- Router dan perangkat harus mendukung CIDR / classless routing agar VLSM berfungsi (sebagian besar perangkat modern sudah mendukung).
Checklist validasi akhir sebelum deploy
- Semua kebutuhan host terpenuhi
- Tidak ada alamat yang overlap
- Gateway dan DHCP terdefinisi untuk tiap subnet
- Dokumentasi siap (tabel + diagram)
- Cadangan alamat tersedia untuk pertumbuhan
Pengertian HTB dalam Komunikasi Serat Optik
| Gambar 406. HTB atau Hybrid Transmission Box |
Dalam konteks komunikasi serat optik, HTB biasanya merujuk pada Hybrid Transmission Box. Ini adalah perangkat atau sistem yang digunakan untuk menggabungkan atau mengelola berbagai jenis sinyal dalam sistem transmisi serat optik. Berikut adalah beberapa penjelasan terkait:
Fungsi HTB dalam Komunikasi Serat Optik
1. Konversi Sinyal
HTB sering digunakan untuk mengonversi sinyal listrik (dari kabel tembaga) menjadi sinyal optik (untuk ditransmisikan melalui serat optik), atau sebaliknya.
2. Penggabungan dan Distribusi Sinyal
HTB dapat menggabungkan beberapa jenis sinyal (seperti data, suara, atau video) ke dalam satu jalur transmisi serat optik, sehingga memanfaatkan kapasitas serat secara lebih efisien.
3. Interkoneksi Antar Jaringan:
HTB memungkinkan integrasi antara jaringan kabel konvensional (misalnya Ethernet) dengan jaringan berbasis serat optik.
4. Konverter Media:
HTB sering digunakan sebagai konverter media dalam sistem FTTH (Fiber to the Home) atau jaringan optik lainnya.
5. Contoh Penggunaan HTB:
- Jaringan FTTH (Fiber to the Home):
HTB digunakan di sisi pelanggan untuk menghubungkan perangkat rumah (seperti komputer atau router) dengan jaringan serat optik.
- Infrastruktur Jaringan Kampus atau Perkantoran:
HTB membantu mentransmisikan data dalam jarak jauh melalui serat optik, dengan titik penghubung yang mudah antara jaringan optik dan perangkat berbasis kabel tembaga.
Konsep Dasar Media Converter HTB dengan Port RJ-45 dan Port Fiber Optic
Media Converter HTB sering digunakan dalam jaringan Metropolitan Area Network (MAN), kampus, perkantoran, serta jaringan Fiber to the Home (FTTH).
2. Struktur dan Komponen Media Converter HTB
§ Port RJ-45 (Ethernet UTP)
→ Untuk koneksi ke perangkat jaringan berbasis tembaga seperti switch, router, atau komputer.
→ Mendukung standar 10/100/1000 Mbps (Fast Ethernet atau Gigabit Ethernet).
§ Port Fiber Optic (SC/LC atau SFP Slot)
→ Untuk koneksi ke jaringan serat optik, mendukung single-mode atau multi-mode fiber.
→ Dapat mentransmisikan data hingga 20 km atau lebih, tergantung jenis fiber opticnya.
Beberapa model juga memiliki fitur seperti Auto MDI/MDIX, yang memungkinkan penggunaan kabel straight atau crossover tanpa konfigurasi tambahan.
3. Cara Kerja Media Converter HTB
3.1 Konversi Sinyal Elektrik ke Optik
3.2 Transmisi Melalui Kabel Serat Optik
§ Sinyal optik yang dikonversi dikirim melalui serat optik ke perangkat tujuan, seperti switch atau media converter lainnya.
§ Serat optik memungkinkan transmisi data jarak jauh dengan latensi rendah dan interferensi minimal.
3.3. Konversi Sinyal Optik ke Elektrik
§ Sinyal listrik kemudian dikirim ke perangkat jaringan lainnya melalui kabel UTP.
Dengan cara ini, media converter HTB memungkinkan perangkat berbasis Ethernet UTP berkomunikasi melalui jaringan fiber optic tanpa perlu mengganti infrastruktur jaringan yang ada.
4. Jenis Media Converter HTB
4.1. HTB-3100 Series
§ Model standar dengan port 10/100 Mbps RJ-45 dan port fiber optic SC.
§ Cocok untuk jaringan fiber optik jarak menengah (hingga 20 km).
4.2. HTB-4100 Series (Gigabit)
§ Mendukung kecepatan 10/100/1000 Mbps untuk koneksi Ethernet.
§ Digunakan dalam jaringan backbone dengan bandwidth tinggi.
4.3. HTB dengan SFP Slot
§ Memungkinkan penggunaan modul SFP (Small Form-factor Pluggable) yang bisa diganti sesuai kebutuhan jaringan.
§ Lebih fleksibel dibanding model fixed port fiber SC/LC.
5. Keuntungan Menggunakan Media Converter HTB
5.1 Memperpanjang Jangkauan Jaringan
§ Ethernet UTP biasanya hanya mencapai 100 meter, sedangkan dengan fiber optic bisa mencapai 20 km atau lebih.
5.2 Meningkatkan Keamanan dan Keandalan
§ Serat optik tidak terpengaruh oleh interferensi elektromagnetik (EMI), sehingga lebih stabil dibanding kabel tembaga.
5.3 Mengurangi Biaya Infrastruktur
§ Tidak perlu mengganti seluruh perangkat jaringan ke fiber optic, cukup menggunakan media converter untuk transisi bertahap.
5.4 Kompatibel dengan Berbagai Perangkat
§ Bisa digunakan dengan switch, router, firewall, atau perangkat jaringan lainnya tanpa perlu perubahan besar dalam konfigurasi.
6. Contoh Penggunaan Media Converter HTB
§ Digunakan untuk menghubungkan dua gedung dengan kabel fiber optic sambil tetap menggunakan jaringan Ethernet UTP di dalam gedung.
§ ISP menggunakan media converter untuk menghubungkan serat optik dari OLT (Optical Line Terminal) ke perangkat pelanggan.
§ Digunakan untuk menghubungkan kamera CCTV berbasis IP ke pusat kontrol melalui jaringan fiber optic.
Kesimpulan
Prinsip Dasar Sistem Networking Service
Gambar 391. Sistem Networking Service |
1. Layered Architecture:
§ Model OSI (Open Systems Interconnection): Model OSI adalah model referensi untuk bagaimana aplikasi dapat berkomunikasi melalui jaringan. Terdiri dari tujuh lapisan: Physical, Data Link, Network, Transport, Session, Presentation, dan Application.
§ Model TCP/IP: Model ini lebih praktis dan terdiri dari empat lapisan: Link, Internet, Transport, dan Application.
2. Addressing:
§ IP Addressing: Setiap perangkat yang terhubung ke jaringan memiliki alamat IP unik yang digunakan untuk mengidentifikasi dan mengarahkan paket data.
§ MAC Addressing: Alamat fisik yang ditetapkan pada kartu jaringan perangkat, digunakan untuk komunikasi pada lapisan Data Link.
3. Routing and Switching:
§ Routing: Proses pengiriman paket data dari satu jaringan ke jaringan lain. Router adalah perangkat yang digunakan untuk menentukan jalur terbaik bagi paket data.
§ Switching: Proses pengiriman paket data di dalam jaringan lokal. Switch adalah perangkat yang menghubungkan berbagai perangkat dalam satu jaringan.
4. Protocols:
§ Transmission Control Protocol (TCP): Menyediakan koneksi yang andal dan memastikan data dikirim secara urut dan tanpa kesalahan.
§ User Datagram Protocol (UDP): Menyediakan koneksi yang tidak andal, digunakan untuk aplikasi yang membutuhkan kecepatan lebih tinggi dan toleransi terhadap kehilangan data.
§ HyperText Transfer Protocol (HTTP/HTTPS): Digunakan untuk mengakses dan mentransfer halaman web.
§ Simple Mail Transfer Protocol (SMTP): Digunakan untuk mengirim email.
5. Network Security:
§ Firewall: Perangkat atau perangkat lunak yang digunakan untuk mengontrol dan mengamankan lalu lintas jaringan berdasarkan aturan keamanan.
§ Encryption: Proses mengamankan data dengan mengubahnya menjadi format yang tidak bisa dibaca tanpa kunci dekripsi yang benar.
§ Virtual Private Network (VPN): Mengamankan koneksi jaringan dengan membuat jalur komunikasi yang terenkripsi antara dua titik.
6. Network Services:
§ Domain Name System (DNS): Sistem yang menerjemahkan nama domain (misalnya, www.example.com) menjadi alamat IP.
§ Dynamic Host Configuration Protocol (DHCP): Protokol yang secara otomatis memberikan alamat IP kepada perangkat di jaringan.
7. Bandwidth and Throughput:
§ Bandwidth: Kapasitas maksimum jaringan untuk mentransfer data dalam satu waktu.
§ Throughput: Jumlah data yang benar-benar berhasil ditransfer dalam periode waktu tertentu.
8. Quality of Service (QoS):
Penghitungan Subnetting
| Gambar 348. Subnetting |
Setelah anda membaca artikel Konsep Subnetting, Siapa Takut? dan memahami konsep Subnetting dengan baik. Kali ini saatnya anda mempelajari teknik penghitungan subnetting. Penghitungan subnetting bisa dilakukan dengan dua cara, cara binary yang relatif lambat dan cara khusus yang lebih cepat.
Pada hakekatnya semua pertanyaan tentang subnetting akan berkisar di empat masalah: Jumlah Subnet, Jumlah Host per Subnet, Blok Subnet, dan Alamat Host- Broadcast.
Penulisan IP address umumnya adalah dengan 192.168.1.2. Namun adakalanya ditulis dengan 192.168.1.2/24, apa ini artinya? Artinya bahwa IP address 192.168.1.2 dengan subnet mask 255.255.255.0.
Lho kok bisa seperti itu? Ya, /24 diambil dari penghitungan bahwa 24 bit subnet mask diselubung dengan binari 1. Atau dengan kata lain, subnet masknya adalah: 11111111.11111111.11111111.00000000 (255.255.255.0).
Konsep ini yang disebut dengan CIDR (Classless Inter-Domain Routing) yang diperkenalkan pertama kali tahun 1992 oleh IEFT. Pertanyaan berikutnya adalah Subnet Mask berapa saja yang bisa digunakan untuk melakukan subnetting? Ini terjawab dengan tabel di bawah:
Subnet Mask Nilai CIDR Subnet Mask Nilai CIDR 255.128.0.0 /9 255.255.240.0 /20 255.192.0.0 /10 255.255.248.0 /21 255.224.0.0 /11 255.255.252.0 /22 255.240.0.0 /12 255.255.254.0 /23 255.248.0.0 /13 255.255.255.0 /24 255.252.0.0 /14 255.255.255.128 /25 255.254.0.0 /15 255.255.255.192 /26 255.255.0.0 /16 255.255.255.224 /27 255.255.128.0 /17 255.255.255.240 /28 255.255.192.0 /18 255.255.255.248 /29 255.255.224.0 /19 255.255.255.252 /30
Ok, sekarang mari langsung latihan saja. Subnetting seperti apa yang terjadi dengan sebuah NETWORK ADDRESS 192.168.1.0/26 ?
Analisa:
192.168.1.0 berarti kelas C dengan
Subnet Mask /26 berarti 11111111.11111111.11111111.11000000 (255.255.255.192).
Penghitungan:
Seperti sudah saya sebutkan sebelumnya semua pertanyaan tentang subnetting akan berpusat di 4 hal, jumlah subnet, jumlah host per subnet, blok subnet, alamat host dan broadcast yang valid. Jadi kita selesaikan dengan urutan seperti itu:
1. Jumlah Subnet = 2^x (Dua pangkat x),
dimana x adalah banyaknya binari 1 pada oktet terakhir subnet mask
(2 oktet terakhir untuk kelas B, dan 3 oktet terakhir untuk kelas A).
Jadi Jumlah Subnet adalah 2^2 = 4 subnet
2. Jumlah Host per Subnet = 2^y – 2,
dimana y adalah adalah kebalikan dari x yaitu banyaknya binari 0 pada oktet terakhir subnet.
Jadi jumlah host per subnet adalah 2^6 – 2 = 62 host
3. Blok Subnet = 256 – 192
(nilai oktet terakhir subnet mask) = 64.
Subnet berikutnya adalah 64 + 64 = 128, dan 128+64=192.
Jadi subnet lengkapnya adalah 0, 64, 128, 192.
4. Alamat host dan broadcast yang valid ?
Kita langsung buat tabelnya.
Sebagai catatan, host pertama adalah 1 angka setelah subnet, dan broadcast adalah 1 angka sebelum subnet berikutnya.
Subnet 192.168.1.0 192.168.1.64 192.168.1.128 192.168.1.192 Host Pertama 192.168.1.1 192.168.1.65 192.168.1.129 192.168.1.193 Host Terakhir 192.168.1.62 192.168.1.126 192.168.1.190 192.168.1.254 Broadcast 192.168.1.63 192.168.1.127 192.168.1.191 192.168.1.255
Kita sudah selesaikan subnetting untuk IP address Class C. Dan kita bisa melanjutkan lagi untuk subnet mask yang lain, dengan konsep dan teknik yang sama. Subnet mask yang bisa digunakan untuk subnetting class C adalah seperti di bawah. Silakan anda coba menghitung seperti cara diatas untuk subnetmask lainnya.
Subnet Mask Nilai CIDR 255.255.255.128 /25 255.255.255.192 /26 255.255.255.224 /27 255.255.255.240 /28 255.255.255.248 /29 255.255.255.252 /30
Berikutnya kita akan mencoba melakukan subnetting untuk IP address class B.
Pertama, subnet mask yang bisa digunakan untuk subnetting class B adalah seperti dibawah.
Sengaja saya pisahkan jadi dua, blok sebelah kiri dan kanan karena masing-masing berbeda teknik terutama untuk oktet yang dimainkan berdasarkan blok subnetnya.
CIDR /17 sampai /24 caranya sama persis dengan subnetting Class C, hanya blok subnetnya kita masukkan langsung ke oktet ketiga, bukan seperti Class C yang dimainkan di oktet keempat.
Sedangkan CIDR /25 sampai /30 (kelipatan) blok subnet kita mainkan di oktet keempat, tapi setelah selesai oktet ketiga berjalan maju (coeunter) dari 0, 1, 2, 3, dst.
Subnet Mask Nilai CIDR Subnet Mask Nilai CIDR 255.255.128.0 /17 255.255.255.128 /25 255.255.192.0 /18 255.255.255.192 /26 255.255.224.0 /19 255.255.255.224 /27 255.255.240.0 /20
Penjelasan Tentang Hubungan IP Address, Subnetmask, Default Gateway dan DNS Server
Langkah-Langkah Instalasi Peer To Peer
| Gambar 322. Instalasi Kabel UTP Topologi Peer To Peer |
1. Klik Start. Ketikkan “Control Panel” lalu pilih.
2. Pada tampilan Control panel Pilih “Network and Internet”, lalu klik Network and Sharing Center.
3. Pilih Network and Sharing Center.
4. Pilih Change Adapter Setting, klik kanan pada Local Area Connection.
5. Pilih tab properties.
6. Klik”Internet Protocol Version 4(TCP/IPv4)”.
7. Setelah muncul tampilan seperti dibawah ini, kemudian isi IP di Laptop 1 (192.168.30.2).
9. Setelah muncul tampilan seperti dibawah ini, kemudian isi IP di Laptop 2 (192.168.30.6).
Untuk mengetahui bahwa jaringan terkoneksi atau tidak maka dilakukan tes koneksi ping Laptop A ke Laptop B dan sebaliknya dengan cara, pilih menu Start lalu pilih Run (Windows+R), ketik cmd.
Jika seluruh tahapan diatas kamu lakukan dengan benar maka kamu akan berhasil dan tidak akan menemukan kendala. Jadi, lakukan dengan teliti dan tidak perlu tergesa-gesa saat melakukan ujian praktikum agar tidak mengulang jika terjadi kesalahan. Manfaatkan waktu dengan baik maka kamu akan memperoleh hasil yang maksimal.
Sekian pembahasan kami tentang "Tahapan Lengkap Praktikum Pengkabelan UTP Beserta Gambar". Jangan sungkan untuk bertanya melalui kolom komentar dibawah. Share bila dirasa artikel ini bermanfaat, Terimakasih.
Pembagian IP Address kelas A,B,C
![]() |
Gambar 257. IP Address A B C |
- Apa bisa dalam pemakai IP address 3 kelas (A, B, dan C) digubungkan ?
- Jika bisa bagaimana caranya?
- Jika tidak mengapa ? Berikut ini cara cara untuk menjawab pertanyaan berikut……
- IP address kelas A terdiri dari 8 bit untuk network ID dan
- Sisanya 24 bit digunakan untuk host ID,
- Sehingga IP address kelas A digunakan untuk jaringan dengan jumlah host yang sangat besar.
- Pada bit pertama berikan angka 0 sampai dengan 127. (0-127)
Karakteristik IP Kelas A
- Format : 0NNNNNNN.HHHHHHHH.HHHHHHHH.HHHHHHHH
- Bit Pertama : 0
- NetworkID : 8 bit
- HostID : 24 bit
- Bit Pertama : 0 -127
- Jumlah : 126 (untuk 0 dan 127 dicadangkan)
- Range IP : 1.x.x.x – 126.x.x.x
- Jumlah IP : 16.777.214
Misalnya IP address 120.31.45.18 maka
- Network ID = 120
- HostID = 31.45.18
- Untuk Subnetmask =255.0.0.0
Jadi IP address di atas mempunyai host dengan nomor 31.45.18 pada jaringan 120
- IP address kelas B terdiri dari 16 bit untuk network ID dan
- Sisanya 16 bit digunakan untuk host ID,
- Sehingga IP address kelas B digunakan untuk jaringan dengan jumlah host yang tidak terlalu besar.
- Pada 2 bit pertama berikan angka 10, sehingga bit awal IP tersebut mulai dari (128 – 191).
Karakteristik IP Kelas B
- Format : 10NNNNNN..NNNNNNNN.HHHHHHHH.HHHHHHHH
- Bit Pertama : 10
- NetworkID : 16 bit
- HostID : 16 bit
- Bit Pertama : 128 -191
- Jumlah : 16.384
- Range IP : 128.1.x.x – 191.155.x.x
- Jumlah IP : 65.532
- Misalnya IP address 150.70.45.18 maka
- Network ID = 150.70
- HostID = 60.56
- Untuk Subnetmask =255.255.0.0
- Jadi IP di atas mempunyai host dengan nomor 60.56 pada jaringan 150.70
- IP address kelas C terdiri dari 24 bit untuk network ID dan
- Sisanya 8 bit digunakan untuk host ID,
- Sehingga IP address kelas C digunakan untuk jaringan untuk ukuran kecil.
- Kelas C biasanya digunakan untuk jaringan Local Area Network atau LAN.
- Biasanya ini terdapat dalam Warnet-Warnet maupun sebuah sekolah.
- Pada 3 bit pertama berikan angka 110 sehingga bit awal IP tersebut mulai dari (192 – 223).
Karakteristik IP Kelas C
- Format : 110NNNNN.NNNNNNNN.NNNNNNNN.HHHHHHHH
- Bit Pertama : 110
- NetworkID : 24 bit
- HostID : 8 bit
- Bit Pertama : 192 – 223
- Jumlah : 16.384
- Range IP : 192.0.0.x.x – 223.255.255.x.x
- Jumlah IP : 254 IP
- Misalnya IP address 192.168.1.1 maka
- Network ID = 192.168.1
- HostID = 1
- Untuk Subnetmask =255.255.255.0
| 7 | 6 | 5 | 4 | 3 | 2 | 1 | 0 | |
| 128 | 64 | 32 | 16 | 8 | 4 | 2 | 1 | |
| 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 1 | Min |
| 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 1 | 1 |
| 0 | 1 | 1 | 1 | 1 | 1 | 1 | 1 | Max |
| 0 | 64 | 32 | 16 | 8 | 4 | 2 | 1 | 127 |
| 7 | 6 | 5 | 4 | 3 | 2 | 1 | 0 | |
| 128 | 64 | 32 | 16 | 8 | 4 | 2 | 1 | |
| 1 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | Min |
| 128 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 128 |
| 1 | 0 | 1 | 1 | 1 | 1 | 1 | 1 | Max |
| 128 | 0 | 32 | 16 | 8 | 4 | 2 | 1 | 191 |
| 7 | 6 | 5 | 4 | 3 | 2 | 1 | 0 | |
| 128 | 64 | 32 | 16 | 8 | 4 | 2 | 1 | |
| 1 | 1 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | Min |
| 128 | 64 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 192 |
| 1 | 1 | 0 | 1 | 1 | 1 | 1 | 1 | Max |
| 128 | 64 | 0 | 16 | 8 | 4 | 2 | 1 | 223 |
| 7 | 6 | 5 | 4 | 3 | 2 | 1 | 0 | |
| 128 | 64 | 32 | 16 | 8 | 4 | 2 | 1 | |
| 1 | 1 | 1 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | Min |
| 128 | 64 | 32 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 224 |
| 1 | 1 | 1 | 0 | 1 | 1 | 1 | 1 | Max |
| 128 | 64 | 32 | 0 | 8 | 4 | 2 | 1 | 239 |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar